Kamis, 29 Oktober 2020

Jangan Bersedih Yang Lalu Biar Berlalu

Masa lalu tak mudah untuk dilupakan, namun kisahmu harus segera dimulai tanpa ada penyesalan yang kembali datang berulang. Bukan tak boleh mengenang, namun jika mengingatnya hanya membuat luka, lalu untuk apa?

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu artinya sama dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya. Atau diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tiada.

Belajar Mengenal Rasa Sakit dari Sebuah Pengkhianatan, dan Belajar Ikhlas dari Sebuah Kehilangan


Mencintai adalah pekerjaan yang mulia, karena cinta cenderung melahirkan sifat kasih sayang kepada apa yang kita cinta. Sedangkan sifat “pengasih” dan “penyayang” itu sendiri adalah salah satu sifat Allah Swt, yakni “Ar Rahman” dan “Ar Rahiim”.

Mencintai akan membuat kita melakukan segala sesuatu yang membuat seseorang yang kita cintai merasa senang dan bahagia. Kita rela bersusah payah demi membahagiakan yang kita cinta. Kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya demi mendapatkan dan memelihara cinta seseorang yang kita cintai itu.

Lalu bagaimana jika orang yang kamu cintai itu tiba-tiba berkhianat dan tidak setia? Kejujuranmu dibalas dengan dusta, dan pengorbananmu tak dihargai. Tentu yang terjadi adalah hati menjadi patah, sedih, kecewa  dan perasaan yang hancur berkeping-keping.